Music

Musik Mampu Membantu Menyembuhkan Penyakit

The National Institutes of Health mengumpulkan Musisi, Neuroscientists, dan Psikolog untuk mempelajari efek music terhadap otak. Beberapa bentuk music yang berbeda menstimulasi bagian yang berbeda terhadap pikiran manusia. Musik rap “flow state” mampu melibatkan lima kunci di pusat otak. Penderita struk dan Parkinson mampu mempertahankan perasaan terhadap music walaupun bahasa dan penggerak tubuh mereka tak lagi berfungsi.

Musik mempunyai potensi untuk menyebuhkan bukan hanya jiwa, tetapi pikiran dan tubuh, dan sebuah studi sedang mempelajari tentang ini agar mampu digunakan secara maksimal.

Perawatan pasien menggunakan musik, yang mana mampu untuk menenangkan dan mengurangi rasa sakit dan stres, tetapi beberapa jenis music yang berbeda mampu menolong menyembuhkan otak dengan baik pula. Melakukan pemeriksaan terhadap otak musisi rap dan ia memiliki segudang kreativitas di dalamnya, dan pada bidang lainnya menunjukan bahwa pengalaman bermusik mingkatkan sebuah kombinasi kompleks yang unik dari beberapa bagian otak.

Bagi penderita struk atau neurological yang tidak sempurna, music mampu tetap tersimpan walaupun kemmampuan berbahasa dan mengingat sudah rusak.

Saat ini, tantangan bagi para dokter adalah untuk memanfaatkan musik bukan hanya sebagai media penenang bagi para pasien, sehingga the National Institutes of Health mengumpulkan para musisi, therapis music, dan neuroscientists untuk masuk ke dalam sirkuit otak dan mencari tahu lebih dalam lagi.

Otak mampu mengimbangi beberapa kekurangan dengan menggunakan music untuk berkomunikasi ungkap Direktur NIH Dr Francis Collins, seorang ahli genetika yang juga bermain gitar.

Untuk mengubah kemmapuan tersebut ke dalam sebuah terapi yang sukses, ‘ini akan menjadi sesuatu hal yang baik untuk mengetahui bagian otak mana yang masih utuh dan mampu bekerja. Untuk mengetahui sirkuit otak yang masih berfungsi dengan baik harus tahu juga sebuah rencana cadangan, Dr Collins menambahkan. Para Scientists tidak memulai dari suatu guratan.

Program terapi musik telah mendokumentasikan beberapa keuntungan untuk pasien, dan tempat umum seperti Rumah Sakit Medstar Georgetown University di Washington DC.

Seorang pemain biola menjaga ritme pada sebuah tarian toe-tapping pada sebuah lorong rumah sakit yang padat dan pada sebuah unit kemoterapidan para pasien terlihat sangat gembira.

Di lantai atas, seorang pemain selo memainkan sebuah lagu folk irlandia pada sebuah perawatan intensif. “Ini seperti membawa mereka menjauh ke suatu tempat untuk beberapa menit dan membuat mereka tidak harus memikirkan dengan apa yang sedang terjadi”, ungkap pemain selo Martha Vance setelah memainkan beberapa lagu bagi seorang pasien yang sedang diisolasi agar mencegah penyebaran infeksi.

Music and the Brain
In this Oct. 11, 2017 image from video, cellist Martha Vance plays for a patient at Medstar Georgetown University Hospital in Washington DC. Musicians and dancers are part of the Georgetown Lombardi Comprehensive Cancer Center’s arts and humanities program. (AP Photo/Tom Sampson)

Bukti mungkin sulit.

Sebuah studi terapi musik internasional gagal membantu anak autis secara signifikan, Journal of American Medical Association baru-baru ini melaporkan, bertentangan dengan temuan sebelumnya yang menjanjikan. Namun para ahli menyebutkan tantangan dengan penelitian tersebut dan meminta penelitian tambahan.

Tidak seperti terapi musik, yang bekerja satu lawan satu terhadap hasil individual, program seni dan humaniora di Georgetown Lombardi Comprehensive Cancer Centre memungkinkan para musisi-in-residence bermain di seluruh rumah sakit. Perawat perawatan paliatif sering mencari Vance, pemain cello, untuk pasien yang cemas atau kesakitan. Dia mungkin melihat monitor, menyesuaikan tempo lagu dengan detak jantung dan kemudian perlahan melambat. Terkadang dia bermain untuk orang yang sekarat, memilih latar belakang aritmia yang lembut dan tidak pernah ada lagu yang mungkin tidak asing lagi.

Julia Langley, yang mengarahkan program Georgetown, ingin meneliti jenis dan dosis musik untuk berbagai situasi kesehatan: ‘Jika kita dapat mempelajari seni dengan cara yang sama seperti ilmu pengetahuan mempelajari pengobatan dan terapi lainnya, saya pikir kita akan melakukan banyak hal baik . ‘

Music and the Brain
In this Oct. 11, 2017 image from video, cellist Martha Vance plays for a patient at Medstar Georgetown University Hospital in Washington DC. Musicians and dancers are part of the Georgetown Lombardi Comprehensive Cancer Center’s arts and humanities program. (AP Photo/Tom Sampson)

Sumber: http://www.dailymail.co.uk/health/article-5193689/Scientists-tune-brain-uncover-musics-healing-power.html#ixzz535hqkaTY

Leave a Reply