Life

7 Negara yang Kekurangan Wanita, Mana Saja Ya?

Logika yang dianut sekarang berkata kalau jumlah cowok masih lebih banyak dari jumlah cewek. Katanya juga, perbandingan dua jenis kelamin ini yaitu 1:2, satu cowok dua cewek. Tapi sepertinya pandangan ini sudah tak relevan sekarang. Terkhusus buat negara-negara tertentu.

Perbandingannya justru bisa terbalik, dua cewek satu cowok. Kadang bisa lebih tinggi lagi. Demografi memang aneh, di satu negara cowok bisa lebih banyak, dan di negara lain bisa sebaliknya. Migrasi, tempat tinggal, mentalitas, dan ekonomi, merupakan diantara penyabab kondisi ini.

  1. Swiss

Ada di tengah Eropa, tak menjamin warga Swiss bisa makmur. Ini bisa dilihat dari jumlah warga cowok dan ceweknya yang tak imbang. Bukan dari ketimpangan ekonomi, tapi lebih ke hasrat hidup secara biologis. Jumlah cowok lebih banyak daripada cewek!

Ini bisa jadi gangguan mental buat para cowok karena tak kunjung mendapat pasangan. Satu alasan yang membuat kondisi ini kian parah yaitu terkait arus migrasi yang terlalu besar. Para wanita di negara Swis lebih ingin hidup merantau di negara lain.

  1. Swedia

Alasannya kurang lebih sama dengan Swiss, yaitu migrasi. Tapi sedikit beda, kalau di Swiss para cewek yang memilih migrasi keluar, Swedia justru menjadi tujuan para imigran cowok. Secara otomatis, ini membuat jumlah cowok lebih banyak dari cewek.

Swedia merupakan negara Skandinavia paling besar, karenanya jadi tujuan favorit kaum imigran yang kebanyakan diisi pria. Saat ini, jumlah populasi pria di Swedia lebih banyak 15 ribu dibanding wanita. Bisa jadi, wanita disini bak ratu, karena tinggal pilih pria yang disuka.

  1. Finlandia

Di salah satu sudut Eropa, ada negara kecil bernama Finlandia yang punya penduduk hanya jutaan jiwa. Masalahnya, porsi cowok dan cewek di negara ini tak imbang, karena cewek lebih sedikit jumlahnya. Meski juga tak ada gambaran pasti tentang angkanya.

Tapi statistik bilang kalau sekitar 256 ribu pria di usia antara 25-54 tahun tak punya pasangan. Itu berarti, para pria ini masih menyandang status single. Ini berita bagus buat para wanita yang ingin mengenyahkan status single, tapi asal tahan dengan cuaca ekstrimnya!

  1. China

Siapa sangka, dengan jumlah penduduk paling banyak di dunia, China nyatanya punya ketimpangan gender. Angkanya pun tak main-main, jumlah cowok berlebih hingga mencapai kisaran 34 juta orang. Sebuah fenomena yang luar biasa tentunya.

Satu diantara sebabnya yaitu gaya hidup yang meningkat. Para wanita di China sudah bisa menghidupi diri sendiri dari hasil kerja, karenanya mereka tak butuh pasangan. Faktor lain yaitu aturan pemerintah yang membatasi tiap keluarga cuma boleh satu anak.

  1. Kanada

Ada banyak sisi positif jadi tetangga Amerika, tapi pastinya ada juga sisi negatif dari posisi ini. Kanada, yang berbagi perbatasan dengan Amerika, merugi dalam hal jumlah penduduk wanita. Dan semakin tahun, populasi wanita makin kurang jumlahnya.

Satu alasan jelas, para wanita dari Kanada lebih sering mengadu nasib di Amerika yang lebih memberi peluang hidup. Amerika lebih menjanjikan, dan itu sebabnya para wanita tak pernah mau pulang. Di Kanada, jumlah pria lebih banyak 250 ribu daripada wanita.

  1. Islandia

Kalau dibuat rata-rata, di Islandia, ada 104 pria untuk 100 wanita. Itu berarti, ada peluang buat empat pria untuk menjomlo seumur hidup. Masalahnya, total penduduk di Islandia cuma berkisar 350 ribu. Jadi, angka ratusan bisa dibilang sangat besar disini.

Sudah dari dulu, negara yang ada di kutub ini punya masalah regenerasi. Tak ingin negaranya kurang penduduk, sempat ada isu kalau pemerintah Islandia akan membayar wanita manapun untuk menikah dengan pria Islandia dan tinggal di negara ini.

  1. Norwegia

Merupakan negara Skandinavia terbesar kedua setelah swedia, dan sama-sama punya masalah tentang langkanya wanita. Angkanya lebih sedikit dari Swedia memang, tapi ada kemungkinan terus naik tiap tahun tanpa diketahui penyebab pastinya.

Di Norwegia, ada sejumlah 12 ribu pria lebih banyak daripada lawan jenis. Ini jelas jadi masalah sosial yang pelik, karena bisa menghambat laju demografi Norwegia. Diantara kondisi sosial yang memicu kejomplangan ini yaitu arus migrasi yang terlalu banyak.

Advertisements

Leave a Reply