Life

Apa yang Bakal Terjadi Pada Tubuh Saat Putus Cinta?

Mari hadapi dengan jujur, putus cinta memang menyebalkan. Hubungan tak cuma berakhir, tapi ada efek lain seperti jadi gila. Untuk beberapa hari, mungkin akan terasa sulit beranjak dari tempat tidur. Tak cuma itu, masih ada banyak efek lain yang bisa dirasakan tubuh.

Bukan cuma aspek psikis, aspek fisik juga bisa kena imbasnya. Akan ada yang berubah dari tubuh saat putus cinta. Tak masalah kalau perubahan itu bagus, tapi kebanyakan malah sebaliknya. Sebenarnya, ‘kegilaan’ hanyalah bagian respons alami tubuh saat putus cinta.

Sakit secara fisik

Sakit setelah putus tak cuma menyerang psikis. Saat peristiwa traumatis terjadi, tubuh benar-benar bisa sakit secara fisik. Penelitian medis menunjukkan kalau bagian reseptor rasa sakit akan aktif seperti halnya saat kaki patah, atau bagian tubuh lain sedang sakit.

Kadang, obat sakit bahkan dipakai untuk menenangkan reseptor ini untuk meredakan respons nyeri. Penelitian menunjukkan jika rasa sakit sosial dan emosional sudah terdaftar di bagian otak yang sama. Contoh mudah, stress bisa membuat pembuluh darah menyempit dan otot tegang.

Tubuh seperti kecanduan

Apa yang terjadi setelah putus, tubuh akan terlihat seperti kecanduan. Keinginan pertama yang muncul setelah putus pasti berharap secepatnya melupakan mantan, sayangnya itu tak kesampaian. Yang ada, otak akan jadi lebih terobsesi pada mantan, termasuk itu aktivitas stalking.

Ini seperti saat mencoba berhenti merokok, tubuh juga bisa mengalami hal sama. Perpisahan dengan pasangan bisa menimbulkan gejala kecanduan. Cinta membuat otak memproduksi hormon kenikmatan, dan itu tak beda dengan pecandu rokok atau obat terlarang.

Berat badan naik atau turun

Jika ingin mencoba metode menurunkan bedat badan secara ekstrim, cobalah putus cinta. Tanpa melakukan apapun, berat badan akan kurang. Putus cinta memicu adrenalin yang bisa meningkatkan kadar kortisol, dan ini akan menekan nafsu makan sehingga berat tubuh turun.

Di sisi sebaliknya, putus cinta bisa membuat berat tubuh naik. Kadang ini bisa menjadi keuntungan. Kadar kortisol yang berlebih bisa memicu stress, dan stress butuh pelampiasan. Salah satunya yaitu dengan melahap makanan apapun sembari tetap berada di tempat tidur terus.

Mengalami stress

Putus cinta pasti menyakitkan, dan stress bisa memberi masalah tambahan. Hormon stress, seperti kortisol, akan dilepas begitu mengalami putus cinta. Masalahnya, kortisol bisa menekan kekebalan tubuh jadi lemah dan memicu masalah kesehatan lain.

Di keadaan normal, kortisol bisa menjaga keseimbangan cairan tubuh dan tekanan darah. Tapi dalam kondisi sebaliknya, kortisol bisa memicu tekanan darah dan gula darah naik. Dua masalah ini lalu memicu kondisi merugikan lain seperti berat badan naik.

Hormon jahat kian subur

Pada dasarnya, tubuh akan jadi lebih lemah saat putus cinta. Dan kortisol bukan merupakan satu-satunya hormon yang patut disalahkan. Adrenalin dan norepinephrine merupakan dua hormon jahat lain yang bisa muncul saat tubuh sedang stress, dalam hal ini putus cinta.

Dua hormon ini memicu detak jantung naik, otot jadi tegang, nafas jadi pendek, dan memicu keringat berlebih. Kondisi ini bisa membuat nafsu makan hilang, jerawat muncul, kepala sakit, dan sejumlah masalah lain. Meditasi masih merupakan satu-satunya cara terbaik untuk mengatasi stress.

Aktivitas otak menjadi aneh

Terobsesi mantan adalah sindrom yang biasa terjadi setelah putus, dan tak ada cara pasti untuk mengatasi aktivitas ini. Kondisi ini merupakan respon otak yang berkaitan dengan hasrat dan memori. Ada peningkatan aktivitas otak yang terkait dopamine neurotransmitter.

Wilayah ini sangat terkait erat dengan fokus, penghargaan, hasrat, dan lainnya. Saat putus cinta, bagian otak ini jadi sangat aktif sehingga memunculkan obsesi meski tanpa ada imbalan apapun. Siapapun akan sulit keluar dari situasi ini sebelum mendapat pengganti sepadan.

Tubuh terasa lesu

Pengaruh secara psikis tak bisa diremehkan, karena itu bisa memicu secara fisik. Hari-hari setelah putus bisa menjadi waktu yang paling menyebalkan. Selalu ada perasaan lesu meski sudah tidur seharian. Tapi ini wajar, karena tubuh sedang memproses pengalaman ini ke dalam memori.

Rasa lelah bisa muncul dengan kuat, seolah baru saja ikut lomba marathon. Tapi ini merupakan cara alami tubuh mundur sebelum bisa bergerak maju dengan lebih baik lagi. Jika memang merasa lesu, tak ada salahnya membiarkan diri menikmati tidur siang, dan yakin kalau ini cuma sementara.

Leave a Reply