Life

Payah Saat Berkencan? Itu Bukan Cuma Kamu, Ini Hasil Evolusi

Siapa yang tak ingin punya pasangan kencan? Lebih mudah membayangkan kencan daripada memikirkan prosesnya. Semua terlihat begitu indah dan hati selalu membuncah karena bahagia, saat sinyal yang dikirim ternyata berbalas. Tapi, tentu butuh proses untuk mencapai tahap ini.

Kadang, imajimasi tak sejalan dengan kenyataan. Bisa saja yang terjadi justru sebaliknya. Semua menjadi tak karuan, pikiran kalut, atau hati remuk redam. Jika seperti ini, tentu ada yang salah dengan metode pendekatan yang diterapkan saat kencan pertama.

Rasa kecewa karena ditolak merupakan konsekuensi dari teknik payah saat berkencan. Mungkin saja itu terlalu agresif, atau bisa pula terlihat terlalu lembek di depannya. Tapi, penolakan dan kekecewaan adalah hal jamak yang bisa ditemui saat masa pendekatan, dan itu hal wajar.

Bahkan, dari satu studi bertema kencan, probabilitas diterima dan ditolak saat kencan pertama itu imbang. Penelitian menunjukkan fakta kalau sekitar 50 persen orang akan kesulitan menemukan pasangan. Prosentase yang sama juga berlaku buat mereka diterima cintanya.

Apapun itu, jika merasa payah saat kencan, itu bukan semata karena kesalahan individu. Ini adalah tentang evolusi, begitu kata peneliti. Kajian lebih lanjut, 1 dari 2 individu akan mengalami kesulitan untuk menemukan pasangan. Ini bisa didasari pada banyak faktor.

Tapi pada banyak kasus, kesulitan ini akibat dari pengaruh lingkungan yang berbeda sehingga menciptakan karakter evolusi yang berbeda. Dari jurnal Personality and Individual Differences, pernyataan ini dibenarkan dengan responden berjumlah 1.900 mahasiswa.

Responden diberi pertanyaan tentang seputar kencan, termasuk bisa tidaknya menjaga hubungan tetap romantis. Hasilnya, 1 dari 2 responden mengaku sulit untuk memulai hubungan dan mempertahankan hubungan. Ini baru bicara respon dari objek, belum dari kajian lain.

Dari perspektif evolusi, meski hasilnya sama, tapi alasan yang ditemukan sedikit beda. Perilaku manusia pasti berbeda-beda, tergantung pada lingkungan yang membentuk, dan dalam fenomena sains kondisi ini dikenal dengan istilah “mismatch problem”, atau masalah ketidakcocokan.

Meski manusia itu makhluk paling terampil untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, tapi itu sama sekali berbeda saat menyesuaikan diri dengan karakter orang lain. Tiap individu mungkin bisa mengatur lingkungan sekitar, tapi mengatur karakter orang lain akan sulit.

Saat adaptasi dengan orang baru, manusia pasti akan mengubah perilaku secara dramatis. Dan saat proses penyesuaian diri sedang berlangsung, terasa ada yang berubah dari karakter diri, dan beberapa tak siap untuk menerima perubahan ini. Hasilnya, proses pendekatan gagal.

Pada kencan yang lebih modern seperti saat ini, kemajuan teknologi dan perkembangan sosial memberi perubahan lebih besar pada proses pendekatan daripada yang bisa ditangani. Ini sangat jauh beda jika dibanding saat era belum semodern sekarang dengan banyak teknologi.

Dulunya, kencan dan kawin merupakan dua hal umum yang tak punya aturan apapun yang mengikat. Tapi perkawinan modern punya banyak aturan ketat yang bisa mengikat tiap pasangan. Ini juga yang menjadi dasar untuk banyak orang menolak untuk menikah sepanjang hidup.

Pernikahan merupakan norma sosial yang sudah berlaku di seluruh dunia dengan aturan yang disepakati. Dan tentu saja, pernikahan masih dinilai sebagai acara paling sakral. Tapi tentu ada konsekuensi dari pernikahan, yaitu harus adaptasi pada lingkungan yang berubah drastis.

Beberapa beripikir tak punya waktu untuk melakukan adaptasi dengan situasi baru setelah menikah. Dan kondisi ini berujung pada gagalnya komitmen saat menjalin hubungan. Efek domino selanjutnya yaitu mempengaruhi proses pengambilan keputusan saat kencan.

Adaptasi akan menghilangkan beberapa sifat dan menghadirkan yang baru. Tapi satu sifat yang sebaiknya diatur saat dalam mode pendekatan yaitu introversi, sebuah sifat yang ditandai dengan rasa malu pada lingkungan sosial baru. Dan 20 persen populasi punya sifat ini.

Dulu, menjadi pemalu dan tak keluar rumah tak jadi masalah untuk siapapun, karena orangtua yang akan mencarikan pasangan. Hari ini, tentu saja, orang umumnya berkencan berdasar preferensi pribadi, juga mencari teman sesuai dengan minat dan kecenderungannya.

Tapi pada konteks ini, rasa malu bisa membuat lemah kesuksesan kencan, dan ini bukan perilaku yang mudah diubah. Saling memahami adalah cara untuk mengatasi. Jadi, jika kadang merasa kesepian, kamu bukan satu-satunya. Karena hampir 1 dari 2 punya masalah yang sama.

Leave a Reply