Life

7 Mitos yang Dipercaya Karena Melihatnya Dari Iklan

Iklan merupakan kunci sukses untuk penjualan. Atas dasar ini, banyak iklan yang menabrak batasan-batasan tertentu dan tak sungkan mengaburkan fakta. Ini bisa memberikan penilaian yang salah pada siapapun yang meilhat. Tapi, demi penjualan yang meningkat, iklan kadang dibesar-besarkan.

Semisal, mitos yang tak penting dibuat seolah itu nyata. Tentu ini bisa memanipulasi pemirsa jadi percaya kalau apa yang dikatakan itu benar adanya. Pengiklan seolah membungkus mitos menjadi kenyataan sehingga membuat pemirsa merasa harus membelinya.

  1. Permen karet aman untuk anak-anak

Permen karet dibuat dengan komposisi gelatin, gula, kanji, pewarna makanan, dan tak ada kandungan buah apapun. Sebuah perpaduan yang tepat untuk merusak gigi anak-anak. Sayangnya, permen karet sudah banyak dipercaya karena cukup bersahabat.

Warna-warni pada permen karet disangka terbuat dari warna buah, padahal ini murni pewarna makanan. Apalagi jika permen karet dibuat dalam bentuk karakter unik tertentu. Tentu, banyak anak yang tertarik untuk membeli, meski itu sebenarnya tak dianjurkan.

  1. Pereda nyeri untuk wanita

Wanita normal mana yang tak pernah mengalami menstruasi, dan itu rasanya pasti sedikit mengerikan. Lalu muncul pereda nyeri untuk wanita, yang diklaim bisa mengurangsi rasa sakit saat periode mens datang. Tapi benarkah itu semua?

Menstruasi merupakan kondisi umum yang terjadi pada wanita, dan penyedia obat-obatan tak ingin peluang ini sia-sia. Banyak perusahaan farmasi lalu membuat obat pereda nyeri khusus wanita dengan embel-embel ‘formula terbaik untuk meredakan nyeri menstruasi’.

  1. Soda dan minuman olahraga bisa mengatasi haus

Pada faktanya, jenis minuman apapun yang mengandung gula atau alkohol justru bisa memicu haus bertambah. Sayangnya, gula merupakan bahan utama yang selalu ada pada tiap minuman kemasan. Meski itu produk minuman olahraga yang katanya menyehatkan.

Kepercayaan ini terbentuk karena iklan selalu mengatakan minuman ini tepat dikonsumsi setelah olahraga, apalagi dalam cuaca panas. Pengiklan tak pernah ingin berkata jujur, padahal satu-satunya yang bisa menghilangkan haus hanya air putih biasa.

  1. Minyak sayur mengandung kolesterol

Ada banyak mitos dipercaya terkait iklan minyak goreng. Dikatakan, semua minyak goreng pasti mengandung kolesterol, kecuali yang mengiklankan. Faktanya, minyak sayur tak mengandung kolesterol sama sekali, kecuali mentega.

Ini adalah salah satu trik marketing yang umum dipakai, sayangnya banyak pemirsa tak tahu kondisi sebenarnya. Tulisan yang berbunyi ‘tak mengandung bahan…’ pada kemasan bisa menarik perhatian pembeli, menambah kredibilitas, dan terlihat seperti barang premium.

  1. Gambar santa dibuat pertama kali oleh coca Cola

Banyak yang menyangka jika karakter legendaris Santa pertama kali dibuat oleh Coca Cola. Ini membuat publik memberi apresiasi pada produk ini lalu membelinya. Sebuah teknik marketing luar biasa yang membuat mitos seolah jadi nyata di mata pemirsa.

Nyatanya, karakter Santa sebenarnya sudah ada pada abad 19, dan artis pembuatnya yaitu Thomas Nast. Iklan Coca Cola dengan santa muncul pertama pada 1931 dengan tujuan untuk meningkatkan penjualan minuman kemasan pada musim dingin.

  1. Pasta gigi harus penuh di sikat gigi

Sering ada iklan pasta gigi yang mengharuskan siapapun untuk menggunakan pasta gigi sepanjang bulu sikat gigi. Sebenarnya, menggunakan pasta gigi seukuran kacang tanah sudah cukup. Yang harus disorot sebenarnya lebih pada teknik menyikat gigi yang kurang benar.

Semua mitos yang dibuat iklan hanya satu tujuannya, yaitu untuk meningkatkan penjualan. Logisnya, jika menggunakan pasta gigi sepanjang bulu sikat gigi, maka pasta gigi akan cepat habis. Dan itu berarti harus membeli yang baru lagi, dan arus penjualan akan naik.

  1. Jeruk merupakan sumber utama vitamin C

Siapapun akan menyangka kalau jeruk merupakan buah yang mengandung vitamin C paling tinggi. Ini tak benar sama sekali. Sebagai gambaran, kadungan vitamin C pada brokoli 650 mg, paprika merah 250 mg, kismis hitam 200 mg, dan jeruk hanya 60 mg.

Mitos ini berasal saat industri jeruk yang akan mati pada 1908. Panen besar berakhir sia-sia, karena jeruk tak laku. Albert lasker lalu punya ide cemerlang, yang menyarankan membuat jus dari jeruk dan meminumnya saat pagi hari sebagai sumber utama vitamin C.

Leave a Reply