Life

Catat, Ini 7 Petuah Tentang Cinta yang Tak Boleh Diikuti!

Nasehat, wejangan, petuah, atau apapun itu, kadang bisa salah sasaran. Memang, semua nasehat punya maksud baik meski hasilnya bisa terbalik. Pasti akan ada banyak pesan yang diterima pasangan baru, dan umumnya sudah pernah didengar sebelumnya.

Semua petuah tentang membina hubungan muaranya cuma satu, berharap hubungan tetap langgeng. Tapi waktu yang menjawab. Petuah bijak tentang pacaran kadang tak berhasil, dan beberapa justru harus dihindari. Alasannya, petuah kadang tak relevan dan kadang punya impak negatif.

  1. ‘Lihat dan belajar dari orang lain’

Salah sasaran. Petuah seperti ini harusnya dialamatkan ke anak kecil, karena mereka adalah peniru yang hebat. Memberi kata bijak seperti ini pada pasangan baru sangat tidak tepat dan salah alamat. Sama-sama sudah besar, jadi kenapa harus meniru orang lain?

Jika sudah menikah dan punya masalah, jangan mengambil contoh dari keluarga lain yang punya masalah sama. Apalagi sampai meniru cara hidupnya, bahkan jika itu bisa menyelesaikan masalah. Masalah merupakan hal biasa saat dua karakter berbeda bertemu.

  1. ‘Selalu ingatkan pasangan, apa yang dia lakukan itu belum cukup’

Sepertinya, ini merupakan sebuah petuah yang bagus untuk bikin masalah kecil jadi lebih besar. Jika sedang berkonflik dengan pasangan, hindari mencari pendapat pada orang terdekat. Itu karena orang-orang tersebut tidak netral dan memihak salah satu.

Jika ingin hubungan tetap berlanjut, acuhkan siapapun yang memberi wejangan seperti ini. Sesungguhnya, masalah yang muncul hanya bisa diselesaikan berdua. Dan nasehat dari orang lain tak perlu ditanggapi dengan mimik serius.

  1. ‘Lihat tingkahnya, kamu punya hak’

Nasehat seperti ini lebih seperti adu domba, bukan benar-benar kata bijak. Lebih mirip bujukan setan daripada pereda konflik. Nasehat seperti ini biasa muncul saat sepasang kekasih sedang berkonflik. Dan pelakunya pasti orang lain yang tak suka, lebih tepatnya benci.

Lebih jauh, kata-kata seperti ini justru bisa memicu hubungan makin retak. Bukan nasehat yang baik dan termasuk tindakan mencampuri urusan orang lain. Jangan sampai termakan pada petuah ini, sehingga pasangan tak makin disudutkan.

  1. ‘Tetap tenang, jangan membuat semakin buruk’

Sangat tidak mungkin menghindari konflik saat menjalin hubungan, apapun itu. Pasti selalu ada masalah baru yang muncul tiap waktu. Jika dibiarkan, tentu segala masalah yang ada bisa menyebabkan hubungan makin renggang, alih-alih menjadi tenang.

Mendiamkan masalah bukan cara yang baik untuk menyelesaikan. Semua bisa makin jadi rumit jika tak ada pemecahan lewat komunikasi. Diam memang emas, tapi akan jadi batu ganjalan jika tak segera didiskusikan bareng pasangan.

  1. ‘Cari pasangan yang romantis’

Saat mulai dewasa, orangtua umumnya mulai sedikit aktif memberi banyak nasehat tentang kehidupan. Entah itu terkait pergaulan, pekerjaan, dan tentu saja saat mencari pasangan. Beberapa nasehat akan bermanfaat, tapi kebanyakan tak bekerja dengan baik.

Semua kriteria pasangan yang diidamkan tak berguna jika waktu mencari pasangan sudah tiba. Sikap romantis tak selalu berhasil mengatasi masalah jika muncul. Sebenarnya, faktor nyaman lebih penting, karena merupakan gerbang utama menuju keintiman.

  1. ‘Tunjukkan siapa yang berkuasa, jangan sampai dia mengatur’

Nasehat seperti ini biasanya datang dari teman. Bagus untuk peduli dengan sesama, tapi tidak dengan intervensi. Daripada nasehat, ungkapan seperti lebih mirip bujukan. Ingat, tiap pasangan punya tanggung jawab sendiri atas peran dalam satu hubungan.

Merupakan hal normal jika salah satu pasangan selalu memimpin pada satu kesempatan. Itu karena memang layak. Hanya rasa pengertian diantara pasangan yang bisa buat hubungan tetap kuat. Dan yang tak boleh dilupakan yaitu tentang sikap respek ke pasangan.

  1. ‘Temukan seseorang yang lebih baik untuk dirimu’

Sekali lagi, jargon seperti ini hanya tepat dalam skrip film saja. Entah itu Romeo dan Juliet, Jake dan Rose, atau cerita fiksi lain. Kenyataanya, menemukan orang terbaik untuk jadi pasangan itu lebih susah daripada mencari jarum di tumpukan jerami.

Jerami dibakar, arang dibersihkan, jarum akan tampak sendiri. Bagaimana dengan pasangan? Tak akan pernah semudah itu. Menemukan orang yang tepat cuma masalah waktu. Semua pasti butuh proses, dan proses butuh waktu. Jadi, kenapa tak menikmati waktu saja?

Advertisements

Leave a Reply