Life

Tradisi Ekstrim Yang Hanya Bisa Kamu Temui Di Tanah Air

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan adat istiadat. Beberapa tradisi bahkan masih dipertahankan hingga kini walau sudah memasuki zaman modern.  Keanekaragaman tradisi tersebut bahkan menjadi daya tarik dan pesona Indonesia dimata para wisatawan asing. Beberapa diantara tradisi tersebut bahkan cukup ekstrim untuk dilakukan. Kamu pasti penasaran dengan tradisi ekstrim apa saja yang ada di tanah air?

Ma’nene, Ritual Pebangkitan Mayat

Bagaimana perasaanmu jika harus disandingkan dengan mayat? Pasti merinding dan ngeri dibuatnya. Bagi warga Tana Toraja hal ini wajar – wajar saja karena mereka memiliki tradisi Ma’nene yaitu proses penghormatan atas roh leluhur. Pada saat Ma’nene setiap tiga tahun sekali kuburan leluhur akan digali dan mayatnya dikeluarkan. Mayat tersebut nantinya didandani kemudian diarak keliling kampung lo guys! Bagi mayat yang mampu berdiri sendiri tanpa ditopang diartikan memiliki kekuatan gaib yang amat besar.

Ikipalin, Pengorbanan Jari Tangan

Tidak hanya tana Toraja saja yang unik ternyata  di Wamena,  Papua  juga punya tradisi ekstrim sendiri. Namanya ialah Ikipalin yakni memotong jari ketika ada saudara dekat meninggal dunia seperti anak, istri, ibu , ayah maupun suami. Jadi tradisi ini tak hanya untuk kaum laki – laki saja tetapi juga wanita sebagai simbol kesedihan kehilangan anggota keluarga. Ikipalin juga dilakukan untuk mencegah malapetaka yang mampu menghilangkan nyawa anggota keluarga yang masih hidup.

Runcingnya Gigi Suku Mentawai

Bagi suku mentawai di Kalimantan symbol kecantikan bukanlah kulit yang putih atau rambut panjang yang indah. Para wanita Mentawai akan mempercantik diri dengan cara meruncingkan gigi mereka seperti berbentuk taring. Selain itu mereka juga akan menato tubuhnya dan memanjangkan telinga.

Beramah Tamah Di Maluku Tengah Biasa Dengan Pukul Sapu

Bisa dibilang ramah tamah ala desa Mamala dan Morella amat menyakitkan ketimbang di  tempat lain. Pasalnya dalam tradisi Baku Pukul Menyapu warga akan saling memukul menggunakan sapu lidi hingga berdarah. Filosofi dari tradisi ini ialah mengingatkan akan pasukan Telukabessy yang pantang menyerah dalam melawan penjajah untuk mempertahankan benteng Kapapaha.

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: